pusat informasi jaminan kesehatan indonesia
Username dan password tidak cocok
Email sudah terdaftar
* Untuk User Dokter
** Untuk User Faskes
*** Untuk User Peneliti

Anda tidak berhak masuk ke subforum ini

BERITA

Mendorong BPJS-Kes jadi Pilar Edukasi & Bisnis

10 October 2017 | comment(0)

Bisnis.com - Kehadiran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan didorong menjadi sarana edukasi yang baik guna meningkatkan penetrasi bisnis asuransi di Tanah Air. Lembaga yang bersifat wajib ini—suka tidak suka—memiliki nilai edukasi bagi masyarakat perihal manfaat asuransi.

Optimisme itu juga tercermin dari survei inklusi keuangan OJK 2016 yang menyebutkan bahwa inklusi keuangan sektor Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS-Kes) mencapai 63,83%. Angka itu tercatat sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan sektor perbankan yang pada akhir 2016 berada pada level 63,63%.

Juru Bicara BPJS Kesehatan Nopi Hidayat mengatakan bahwa BPJS-Kes secara prinsip risiko mengusung semangat gotong royong. Adapun, dari sisi komersial memiliki mekanisme yang lain. Namun, perseroan sangat terbuka untuk bersinergi dengan asuransi komersial untuk memberikan nilai tambah bagi konsumen.

“Kami sudah bekerja sama dengan 22 asuransi swasta untuk coordination of benefit [CoB]. Jadi, BPJS-Kes memiliki potensi besar bagi asuransi swasta untuk memberikan nilai tambah. Kami terbuka dengan semua asuransi,” ujarnya kepada Bisnis.

Dia menurutkan, kerja sama dengan asuransi swasta bertujuan memberikan manfaat yang terbaik bagi konsumen yang juga memiliki asuransi swasta. Menurutnya, BPJS-Kes akan terus meningkatkan sinergi guna memberikan yang terbaik bagi konsumen.

Julian Noor, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menuturkan bahwa di banyak negara, kehadiran asuransi wajib seperti BPJS-Kes merupakan alat edukasi pertama tentang asuransi karena masyakat dipaksa membeli. Namun, di Indonesia dampak edukasi pertama melalui BPJS-Kes sejauh ini belum begitu maksimal.

“Mekanisme [bisnis] yang dipakai ialah pola asuransi, tetapi [bungkusnya] tidak ada kata asuransi di BPJS. Jadi, kalau mau menjadi mekanisme edukasi asuransi harusnya pelayanan mereka makin bagus,” ujarnya.

Noor berpendapat, jika pelayanan BPJS-Kes lebih baik akan efektif mengedukasi masyarakat perihal perlindungan kesehatan. Pasalnya, dengan tarif yang murah, masyarakat dapat menikmati layanan kesehatan yang baik. Namun, jika pelayanan BPJS-Kes tidak optimal, ini menjadi kontra produktif bagi asuransi secara umum.

“Di negara lain, asuransi wajib itu sangat menolong untuk pemahaman masyarakat bahwa asuransi itu penting. Kalau ikut akan jadi lebih murah, kalau ada masalah klaim dilayani dengan mudah. Kami masih harus berbenah tapi BPJS juga bagian dari penetrasi ke masyarakat,” tambahnya.

Ng Keng Hooi, Group Chief Executive dan Presiden AIA Group, mengatakan bahwa kehadiran BPJS-Kes akan mendorong kesadaran masyarakat mengenai pentingnya proteksi kesehatan sehingga terbuka untuk memilih opsi layanan premium yang ditawarkan asuransi swasta.

Dia menambahkan, BPJS-Kes bukan merupakan pesaing karena asuransi swasta bersifat saling melengkapi. Selain itu, asuransi swasta lebih menyasar masyarakat menengah ke atas.

“Saya tidak melihat itu sebagai pesaing, kami melihat sebagai kesempatan untuk mendapatkan nasabah. Kami bermain di pasar yang berbeda. Kami AIA lebih menengah ke atas,” tambahnya.


Print this page

Pengutipan sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan judul, tanggal, dan sumber

Mendorong BPJS-Kes jadi Pilar Edukasi & Bisnis

http://jkn.jamsosindonesia.com/blog/detail/2330/mendorong-bpjs-kes-jadi-pilar-edukasi---bisnis

Copyright © 2018 Jamkesindonesia.