pusat informasi jaminan kesehatan indonesia
Username dan password tidak cocok
Email sudah terdaftar
* Untuk User Dokter
** Untuk User Faskes
*** Untuk User Peneliti

Anda tidak berhak masuk ke subforum ini

BERITA

Strategi Penanggulangan Disusun

23 October 2017 | comment(0)

JAKARTA, KOMPAS — Penyakit jantung merupakan masalah kesehatan yang paling banyak menghabiskan dana Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat yang dikelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan. Untuk itu, pemerintah menyusun strategi penanggulangan penyakit itu dari segi tenaga dan fasilitas kesehatan.

Pada 2014-2016, BPJS Kesehatan mengeluarkan Rp 166 triliun. Rinciannya adalah Rp 132 triliun untuk fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjut (FKRTL) dan Rp 34 triliun untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP).

Direktur Utama BPJS Kesehatan Fachmi Idris memaparkan, 51 persen dari 9.861.378 kasus katastropik (penyakit yang butuh biaya besar dan membahayakan jiwa) pada 2014-2016 adalah penyakit jantung. Gagal ginjal menempati posisi kedua, yakni 18 persen dari jumlah total kasus.

Menteri Kesehatan Nila Djuwita F Moeloek mengatakan, rumah sakit yang bisa melakukan operasi kateterisasi jantung 171 RS. Total pelayanan cath lab atau alat deteksi penyakit jantung 199 unit. Kini pemerintah berusaha menambah alat cath lab di RS rujukan. “Itu sesuai kemampuan rumah sakit,” ujarnya, di Jakarta, Minggu (22/10).

Sumber daya manusia

Untuk mengatasi kekurangan tenaga ahli jantung, Kementerian Kesehatan mengumpulkan para ahli kardiovaskular untuk membahas tingginya kasus penyakit jantung di Indonesia. Pertemuan itu memutuskan menambah jumlah dokter spesialis jantung.

Mantan Direktur Utama Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Hananto Andriantoro menambahkan, saat menjabat direktur utama, ia menjadi penanggung jawab layanan kardiovaskular di Indonesia dengan membina RS vertikal agar memberi layanan kardiovaskular sampai tahap akhir, yakni bedah jantung. “Setiap RS dibina dua tahun,” ujarnya pada Seminar Nasional Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia XV di Jakarta, Jumat (20/10).

Menurut Hananto, tingginya kasus penyakit jantung disebabkan minimnya tindakan pencegahan. Contohnya, Finlandia butuh waktu 25 tahun untuk menekan angka kasus itu 68 persen. Di Jakarta, ada dua kecamatan yang petugas kesehatan puskesmasnya giat mendekati warga perokok hingga ada perubahan perilaku dari warga itu.

Namun, tindakan pencegahan lebih sulit karena terkait kebiasaan warga. Selama ini tindakan preventif penyakit jantung mengandalkan petugas di FKTP. “Mereka akan melakukan pendekatan kepada warga sekitarnya,” kata Nila.

Untuk meningkatkan mutu layanan, menurut Hananto, RS Harapan Kita membangun infrastruktur tambahan dan ditargetkan selesai pada 2020. Pihaknya juga menambah ruang perawatan intensif dari 43 tempat tidur jadi 108 tempat tidur serta menambah 5 cath lab. (DD09)


Print this page

Pengutipan sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan judul, tanggal, dan sumber

Strategi Penanggulangan Disusun

http://jkn.jamsosindonesia.com/blog/detail/2393/strategi-penanggulangan-disusun

Copyright © 2018 Jamkesindonesia.