pusat informasi jaminan kesehatan indonesia
Username dan password tidak cocok
Email sudah terdaftar
* Untuk User Dokter
** Untuk User Faskes
*** Untuk User Peneliti

Anda tidak berhak masuk ke subforum ini

BERITA

INDUSTRI FARMASI : Perbaikan JKN Mendesak

10 November 2017 | comment(0)

Bisnis.com, Wakil Ketua Umum Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia Ferry Soetikno menyatakan perbaikan terutama diperlukan pada tahap perencanaan dan lelang pengadaan obat.

Pemerintah mesti mulai memperbaiki akurasi permintaan dalam penyusunan rencana kebutuhan obat setiap tahun. Ini karena estimasi pemerintah kerap tidak akurat dengan angka kebutuhan.

“Itu juga yang akhirnya menyebabkan beberapa obat tertentu under stock, tetapi pada obat obat lain banyak juga yang overstock. Perencanaan dan lelang masih kurang baik,” ujarnya di Jakarta, Kamis (9/11).

Pebisnis farmasi juga menyoroti sistem lelang pengadaan obat yang perlu diperbaiki. Menurutnya, pemerintah kerap menggulirkan lelang pengadaan obat pada awal tahun berjalan.

Pelaksanaan lelang seperti itu menyebabkan pabrikan baru merealisasikan kontak pengadaan pada awal kuartal kedua. Akibatnya, tidak jarang fasilitas kesehatan merasakan kekosongan stok obat pada permulaan tahun. “Lelang pengadaan obat mestinya bisa mulai dijalankan sejak akhir tahun,” ujarnya.

Di samping itu, sistem lelang pengadaan obat program JKN hanya memungkinkan pemenang tunggal pada setiap kategori obat. Hal itu dapat menyebabkan kelangkaan obat tatkala pemenang tender gagal memenuhi permintaan pemerintah.

“Kalau negara menggantungkan satu kategori obat pada satu supplier saja, bisa memunculkan resiko gagal supply. "Mestinya lelang memungkinkan multiple winners untuk memastikan ketersediaan obat,” ujarnya.

Ferry menyatakan kapasitas terpasang produk obat generik produsen farmasi domestik umumnya melebihi permintaan nasional. Hanya saja, pabrikan merasa terancam dengan penurunan harga acuan di dalam lelang setiap tahun yang berpotensi menekan margin.

“Kalau dilihat, setiap tahun turunnya itu sekitar 10%—15%. Mestinya tender jangan hanya semata gunakan pendekatan harga, tetapi juga melihat keberlanjutan industri karena kami banyak gelontorkan investasi untuk R&D,” ujarnya.

Direktur Produksi Produk Terapetik Badan Pengawas Obat dan Makanan Togi Hutadjulu menyatakan harga acuan pada lelang pengadaan obat merujuk kepada harga perkiraan sendiri (HPS) sebagai acuan tertinggi. Peserta tender umumnya menyanggupi nilai di bawah HPS untuk memenangkan kontrak.

“Dan menurut penelitian, beberapa produk obat tidak memenuhi syarat. Ini yang mesti kita perhatikan, menjaga kriteria obat tidak bisa dengan menggunakan pendekatan harga,” ujarnya.

Menurutnya, sistem lelang untuk menentukan pemenang pemasok dengan harga obat termurah berisiko menurunkan kualitas. Pabrikan farmasi umumnya menyiasati dengan menekan biaya kemasan.

Togi menyatakan institusinya hanya memiliki kewenangan untuk melakukan simplifikasi registrasi obat. Menurutnya, pengubahan sistem merupakan sepenuhnya merupakan kewenangan pemerintah pusat.

Hanya saja, institusinya menyetujui gagasan untuk memperketat kriteria dasar bagi pabrikan farmasi yang ingin terdaftar sebagai peserta lelang pengadaan obat. Beberapa di antaranya seperti standar track record, performa, dan komitmen pengiriman.

“Intinya jangan sampai pemenang tender sudah tidak deliver secara on time, lalu akhirnya menghalalkan toll manufacturing kepada perusahaan lain. Itu mesti dicegah untuk memastikan konsistensi formulasi dalam produksi obat,” ujarnya.

Badan Pengawas Obat dan Makanan mencatat sebanyak 15.205 jenis obat terdaftar yang beredar di seluruh Indonesia. Sebanyak 83,03% di antaranya merupakan obat dengan merek dagang tertentu. Sementara itu, sisanya sebanyak 16,97% merupakan obat generik. “Tapi dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan obat generik semakin pesat,” ujarnya.

Produsen farmasi yang beroperasi di Indonesia terdiri atas sebanyak 209 persahaan. Sebanyak 80% di antaranya merupakan perusahaan lokal dan sisanya merupakan perusahaan multinasional.

”Obat generik umumnya diproduksi lokal. Untuk new entity products umumnya masih impor karena memang belum bisa diproduksi di dalam negeri,” ujarnya.


Print this page

Pengutipan sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan judul, tanggal, dan sumber

INDUSTRI FARMASI : Perbaikan JKN Mendesak

http://jkn.jamsosindonesia.com/blog/detail/2429/industri-farmasi---perbaikan-jkn-mendesak

Copyright © 2018 Jamkesindonesia.