pusat informasi jaminan kesehatan indonesia
Username dan password tidak cocok
Email sudah terdaftar
* Untuk User Dokter
** Untuk User Faskes
*** Untuk User Peneliti

Anda tidak berhak masuk ke subforum ini

BERITA

Sofosbuvir dan Declatasvir Harus Masuk Layanan JKN

23 December 2017 | comment(0)

JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah komunitas mendesak agar obat hepatitis C jenis sofosbuvir dan declatasvir bisa masuk dalam layanan Jaminan Kesehatan Nasional agar bisa didapatkan secara gratis oleh masyarakat. Kedua jenis obat golongan direct acting antiviral ini dinilai lebih efektif menyembuhkan penyakit hepatitis C dibandingkan dengan jenis obat yang ditanggung JKN saat ini.

Ketua Forum Komunitas Hepatitis C Eky mengatakan, saat ini, obat untuk hepatitis C yang termasuk layanan JKN ialah jenis interferon dan ribavirin. Obat yang masuk ke dalam program pemerintah ialah jenis sofosbuvir dan simeprevir, sedangkan jenis declatasvir harus diakses secara mandiri oleh pasien.

Eky menuturkan, obat yang ditanggung JKN saat ini hanya memiliki efektivitas kesembuhan berkisar 40-60 persen. Sementara kombinasi obat sofosbuvir dengan declatasvir bisa mencapai kesembuhan sekitar 98 persen. Masa pengobatannya pun lebih singkat, yaitu selama 12 minggu.

”Obat jenis interferon dan ribavirin harus dikonsumsi selama 48 minggu dengan efek samping yang tidak nyaman, seperti mual, lemah, dan depresi. Bahkan, ribavirin bisa menimbulkan teratogenik (cacat lahir pada bayi),” ujarnya, Kamis (21/12), di Jakarta.

Manajer Program Advokasi Kesehatan Persaudaraan Korban Narkoba, Psikotropika, dan Zat Adiktif Lainnya (Napza) Indonesia Caroline Thomas menambahkan, biaya pengobatan juga bisa dipangkas dengan penggunaan sofosbuvir dan declatasvir. ”Kedua obat ini bisa dikonsumsi oleh semua genotipe hepatitis C sehingga tidak butuh tes genotipe yang perlu biaya sekitar Rp 4 juta,” katanya.

Caroline mengemukakan, obat sofosbuvir harus dikonsumsi oleh penderita hepatitis C, tetapi perlu dikombinasi dengan jenis obat lain. Mengutip dari studi di Inggris, ia mengatakan, obat declatasvir merupakan obat yang paling efektif dikombinasikan.

Ia menyayangkan, meski sofosbuvir sudah memiliki izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan, obat ini baru menjadi obat program pemerintah. Artinya, ketersediaannya terbatas, yaitu disediakan untuk 6.000 kasus di enam provinsi. Padahal, berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar 2013, ditemukan 3 juta pengidap hepatitis C.

Koordinator Advokasi Indonesia AIDS Coalition Sindi Putri mengatakan, pengobatan kasus hepatitis C dengan DAA jenis sofosbuvir dan declatasvir dapat memangkas biaya pengobatan sekitar Rp 55 juta. (DD04)


Print this page

Pengutipan sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan judul, tanggal, dan sumber

Sofosbuvir dan Declatasvir Harus Masuk Layanan JKN

http://jkn.jamsosindonesia.com/blog/detail/2487/sofosbuvir-dan-declatasvir-harus-masuk-layanan-jkn

Copyright © 2018 Jamkesindonesia.